Orang yang Mengumandangkan Adzan Disebut Muadzin

Suara adzan tentu sudah tidak asing lagi di dengar, karena setiap memasuki waktu salat suara ini dikumandangkan. adzan adalah sebuah panggilan kepada umat muslim untuk menunaikan salat. Biasanya adzan dilakukan di masjid atau mushola menggunakan alat pengeras suara. Sedangkan orang yang mengumandangkan adzan disebut muadzin itu tidak boleh sembarang orang.

Hal ini dikarenakan ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai orang yang mengumandangkan adzan. Ada beberapa aturan yang harus dipenuhi oleh pelaksananya. Berikut penjelasan lengkapnya, antara lain:

Sebutan untuk Orang yang Menyerukan adzan

Perlu diketahui bahawa orang yang mengumandangkan adzan disebut dengan muadzin. Sebutan ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhamad dan tanda untuk orang yang menyerukan adzan. muadzin pertama bernama Bilal bin Rabah yang diberikan mandat oleh Rasulullah. Beliau adalah orang yang melantunkan adzan dengan suara yang nyaring.

Berbagai keutamaan bisa diperoleh saat menjadi seorang muadzin. Selain pahala yang besar, orang yang bertugas mengumandangkan adzan juga mendapat ganjaran surga dan ampunan dosa. Selain itu, orang yang mendengar suara adzan akan menjadi saksi saat di akhirat. Jadi banyak sekali keutamaan yang bisa diperoleh saat menjadi seorang muadzin.

Syarat untuk Bisa Menjadi muadzin

Ada beberapa syarat dan aturan-aturan yang wajib untuk dipenuh oleh muadzin. Hal ini dikarenakan saat adzan berkumandang artinya ada panggilan untuk beribadah. Jadi, harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Berikut beberapa syarat seorang muadzin, yaitu:

1. Beragama Islam

Agar bisa mengumandangkan adzan dan menjadi seorang muadzin, hal pertama yang harus dipenuhi adalah pelaksananya beragama Islam. adzan adalah seruan untuk beribadah bagi kaum muslim, jadi sangat tidak mungkin jika umat agama lain yang menyerukannya. Ini adalah syarat utama yang juga tercantum dalah Al-Qur’an.

2. Memiliki Akal yang Sehat

Syarat yang kedua adalah memiliki akal sehat atau tidak gila. Hal ini sudah terkandung dalam hadis bahwa orang yang menjadi muadzin haruslah berakal. Tidak bisa orang yang memiliki gangguan kejiwaan mengumandangkan adzan. Jika orang yang tidak berakal menyuarakan adzan, adzan tersebut dinyatakan tak sah.

3. Paham Agama dengan Baik

Orang yang menjadi muadzin haruslah orang yang memiliki pemahaman agama dengan baik. Hal ini didasarkan pada pelafalan adzan yang harus tepat pula. Jika salah pengucapan, maka arti yang dihasilkan juga akan berbeda. Maka dari itu, orang yang memahami agama dengan baik yang diutamakan.

4. Baligh

Sahnya adzan juga ditentukan dengan muadzin yang sudah baligh. Hal ini maksudnya adalah keadaan anak yang sudah bisa dikatakan dewasa untuk menyerukan adzan. Namun, jika keadaan tidak memungkinkan atau mendesak, anak kecil pun diperbolehkan melantunkan adzan. Hal ini pernah terjadi saat masa Nabi dahulu.

5. Suaranya Nyaring serta Merdu

adzan adalah ajakan untuk menunaikan ibadah, jadi sebisa mungkin muadzinnya harus memiliki suara yang nyaring. Jika suaranya nyaring, maka banyak orang yang akan mendengar seruan tersebut. Selain itu, penting sekali untuk memiliki suara yang merdu dengan pelafalan yang benar, agar ntidak salah arti.

Baca juga: orang yang mendengarkan adzan

6. Wajib Amanah

Syarat terakhir untuk menjadi seorang muadzin adalah mampu memegang amanah. Mengapa demikian? Karena adzan yang dikumandangkan seorang muadzin menjadi patokan jam waktu sholat. Maka menjadi seorang muadzin tidak bisa diremehkan. Baiknya seorang muadzin selalu memperhatikan jam masjid agar waktu adzan tepat.

Itulah penjelasan mengenai orang yang mengumandangkan adzan disebut sebagai muadzin dalam Islam. Menjadi seorang muadzin merupakan hal yang baik untuk dilakukan. Namun, dalam pelaksanaanya tetap harus memperhatikan syarat-syarat yang berlaku untuk menjaga sahnya adzan yang akan dikumandangkan

error: Content is protected !!